Misteri Besar Dinar-Dirham Di Kelantan

Jika pernah membaca serial komik Asterix, ada sebuah desa bernama Galia. Ketika semua bagian negara sudah dikuasai oleh Romawi, itulah satu-satunya desa yang tak pernah terjajah dan tak pernah tersentuh. Kelantan di Malaysia, mungkin juga seperti Galia. Di Kelantan, kekuasaan kapitalisme tampaknya sedikit sekali menyentuhnya. Keputusan untuk memperkenalkan Dinar dan Dirham sebagai mata uang barter baru di negeri ini telah menyebabkan kegemparan internasional. Sementara Eropa masih agak lumpuh karena mencari jalan keluar dari dilema keuangan yang irasional, tetapi kenyataan sebenarnya hanya terus mencetak lebih banyak uang lagi; sementara negara kecil ini berani menghadapinya.

Sensasi itu telah cepat menyebar: Di tengah krisis keuangan historis dan banjir uang kertas terbesar dalam sejarah manusia, Kelantan yang kecil dengan penduduk sekitar dua juta orang, telah mengingatkan kita semua pada tradisi lama yang sangat anti-inflasi. Jika tiba di Kelantan, sebuah billboard besar akan menyambut Anda di bandaranya, "Negara Dinar dan Dirham." Jelas, dinar dan dirham memiliki dasar yang kuat dalam Islam, dan juga menjadi identitas, dan mungkin memiliki lebih dari sekadar efek simbolis dan kebetulan juga, hal ini telah menyebabkan 'gempa' dalam kebijakan keuangan Asia.

Para pemimpin (Kelantan) tidak hanya melihat Dinar sebagai tautan yang mengembalikan tradisi ekonomi Islam fundamental, tetapi lebih sebagai alat yang berguna untuk membentuk masa depan ekonomi rakyat. Rencana ini menjadi sangat populer di kalangan rakyat dan memiliki tujuan yang jelas untuk melindungi rakyat di saat krisis keuangan.

Fakta berbicara sendiri, setiap orang yang memiliki Dinar, dan keberhasilannya dapat dilihat dalam kinerja yang stabil dan positif dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini khususnya devaluasi mata uang kertas, yang mendesak para pemimpin negeri kecil itu untuk bertindak seperti sekarang.

Islam tahu bahwa strategi keuangan tidak hanya berisfat romantisme pada masa lalu, atau bahkan melarikan diri dari modernitas yang usang. Strategi ini sebenarnya berdasarkan efektivitas model keuangan asli Islam: pasar bebas dan uang gratis. Pelaksanaan pemberlakuan Dinar-Dirham ini sangat revolusioner. Bahkan para pekerja, jika mereka menghendaki, menerima seperempat upah mereka dalam emas dan perak, seperti dalam Dinar dan Dirham, dan mereka juga dapat membayar tagihan bulanan listrik dan air dengan itu.

Tetapi juga kewajiban zakat, sekadar mengingatkan tidak dapat dibayarkan dalam mata uang kertas. Para pengusaha di Kelantan bahkan telah secara resmi resmi meluncurkan "Kelantan-Dinar". Dalam hal ini, kita hanya perlu melakukan perkiraan kasar untuk mewujudkan apa artinya jika jutaan umat Islam di Asia sekali lagi membayar zakat mereka dengan menggunakan emas dan perak, atau Dinar-Dirham itu.

Menurut penasihat keuangan pemerintah, Umar Vadillo, arena yang paling penting bagi Dinar hanya pasar di kota-kota saja. Mulai sekarang, tingkat konversi akan selalu ditampilkan pada layar digital. Antusiasme di ibu kota bahkan sangat besar—hampir 1.000 toko telah mengumumkan penerapan Dinar. Apa yang terjadi di Kelantan bukan penimbunan emas, melainkan sirkulasi aktif.

Di Malaysia, bab lain yang menarik dalam perdebatan mata uang telah dimulai. Sejak mantan perdana negara, Dr, Mahathir mempromosikan "Gold Dinar" setelah spekulasi mata uang yang agresif di 90-an, tema "Gold" telah menjadi bagian integral dari perdebatan politik dalam negeri di Kuala Lumpur. Rencana Mahathir awalnya untuk memperkenalkan Dinar dalam perdagangan asing di negara itu. Namun kemudian kebijakan ini mengusik Malaysia National Bank. Bank Nasional takut jika Dinar dapat, dalam jangka panjang, menggantikan mata uang nasional.

Kebijakan, bank dan partai politik mungkin masing-masing memiliki niat mereka sendiri, tetapi pada akhirnya selalu akan sampai ke konsumen sendiri dalam memutuskan sengketa tersebut. Banyak orang Melayu yang melihat kebebasan untuk memilih uang mereka sendiri sebagai sebuah aspek penting dari kebebasan, yang sama dengan, misalnya, kebebasan berekspresi. Pada banyak forum internet dan di koran-koran memicu diskusi yang hidup dan keyakinan yang berbeda-beda tentang tema Dinar. Slogan sederhana beredar: "Anda menyimpan uang kertas Anda, kami akan menyimpan emas kami!" Referendum dalam proyek Gold-Dinar benar-benar akan menyita perhatian besar di pasar negara itu.

Secara resmi, Kelantan telah melebihi kekuatan hukum. Kelantan tidak pernah mengklaim bahwa Dinar adalah legal tender, yaitu mata uang resmi Malaysia, tidak seperti Kruger Rand di Afrika Selatan. Tapi ini mungkin hanya masalah waktu sebelum negara-negara Muslim akhirnya menerima Dinar sebagai alat pembayaran yang sah.

"Dinar", yang disebutkan dalam Al Qur'an, sama sekali, bukan hanya sebuah mata uang "alternatif" atau bahkan mata uang begitu saja seperti dalam pengertian modern. Dinar memiliki terminologi yang tidak biasa. Dalam Islam, uang bukanlah sesuatu yang disembah. Koin-koin tersebut bisa jadi sebanding dengan barang lain, seperti beras. Berbeda dengan mata uang modern, yang memiliki monopoli, dalam Islam tidak pernah ada hal seperti itu. Datuk Husam Musa, Ketua Komite Perencanaan Keuangan dan Ekonomi Kelantan tetap tegas dalam menghadapi perdebatan tentang Dinar: "Berbagai laporan mengklaim bahwa Dinar diatur untuk menjadi mata uang kedua Kelantan yang tidak akurat dan menimbulkan kebingungan. Saya tidak bisa mengerti mengapa pertanyaan itu meningkat setelah Kelantan menerapkan penggunaan Dinar. Dinar telah menjadi aspek Islam sejak awal." katanya kepada media.

Sumber : http://distro-dinar.blogspot.com/
Selengkapnya...

[+/-] Selengkapnya...

Sebuah negara bagian Malaysia telah membolehkan masyarakat untuk menggunakan koin emas dan perak di toko dan restoran untuk menghidupkan kembali praktek perdagangan dari masyarakat Islam awal, kata seorang pejabat mengatakan Jumat ini (13/8). Uang koin Dinar emas dan dirham perak memberikan alternatif lain dari mata uang Malaysia, ringgit, di negara bagian timur laut Kelantan, yang dikuasai oleh Partai Islam Semalaysia (PAS).

Nilai dari mata uang yang digunakan di Kelantan dapat berfluktuasi sesuai dengan harga pasar, namun para pejabat mengatakan hal itu tetap merupakan alternatif yang lebih baik daripada menggunakan mata uang dipengaruhi oleh dolar AS dan mata uang asing lainnya.

Pihak berwenang Kelantan juga mengatakan penggunaan koin tersebut didorong oleh Al-Quran.

Pejabat negara telah menghasilkan uang senilai $ 630.000 untuk penggunaan di sekitar 1.000 outlet di ibukota Kelantan, kata Nik Mahani Mohamad, direktur eksekutif dari Kelantan Golden Trade, yang memproduksi koin dinar dirham.

"Ini adalah saat yang amat sangat hebat bagi umat Islam," kata Nik Mahani. "Kami menyediakan alternatif berarti bagi rakyat untuk perdagangan dengan dinar dan dirham."

Koin dinar dirham masuk ke sirkulasi pasar Kamis kemarin dan dapat dibeli di berbagai lokasi di Kelantan. Harganya saat ini bernilai sekitar $ 180 per dinar dan $ 4 per dirham.

Pemerintah negara juga berencana untuk memberikan karyawan pilihan untuk menerima sebagian dari gaji mereka dalam mata uang ini, serta memperkenalkan emas batangan untuk investasi besar. Umat Islam yang ingin bersedekah juga dapat membayar dengan koin Dinar dirham. PAS telah telah memerintah Kelantan sejak tahun 1990. Beberapa kebijakan mereka yang selama bertahun-tahun termasuk melarang perjudian, hiburan malam dan konser musik rock, dan mewajibkan karyawan negara muslim wanita mengenakan jilbab di tempat kerja.

Sumber : www.eramuslim.com
Selengkapnya...

[+/-] Selengkapnya...

Semudah Menggunakan Rupiah

Sudah banyak pasar yang menerima dinar-dirham sebagai alat pembayaran, bahkan sudah ada pecahan dirham untuk membeli kebutuhan berharga murah. Lima tahun lalu banyak orang yang tidak menggunakan dinar-dirham dengan alasan tidak praktis, tidak ada pedagang yang mau menerima, dan tidak ada nilai pecahan untuk membeli barang atau jasa yang berharga murah. Kalaupun ada pemanfaatan dinar-dirham, saat itu hanya sebagai alat simpan atau investasi saja. Kini, seiring berputarnya waktu, melalui inovasi dan gebrakan yang dilakukan para penggiat dinar-dirham, kendala-kendala teknis itu teratasi. Seperti yang dilakukan Wakala Induk Nusantara (WIN), salah satu lembaga penyedia dinar-dirham di Indonesia. Pada April 2010, WIN meluncurkan Daniq (1/6 dirham). “Sekarang umat bisa membeli barang-barang murah dengan menggunakan daniq dirham. Misalnya membeli mie instan,” jelas Zaim Saidi, Direktur Utama WIN.

WIN juga mencetak dan mengeluarkan ½ Dirham (nisfu dirham), 1 dirham, 2 dirham (dirhamayn), 5 dirham, ½ dinar (nifsu dinar), 1 dinar, dan 2 dinar (dinarayn). Selain WIN, ada juga lembaga yang mencetak sekaligus mengeluarkan dinar-dirham di Indonesia, di antaranya Koperasi Dinarku, Gerai Dinar, dan Indonesia Mint Nusantara (IMN). Untuk update harga dinar-dirham dapat mengakses situs www.wakalanusantara.com, www.dinarfirst.org, www.geraidinar.com, dan www.dinarku.com.

Memanfaatkan Teknologi

Kemajuan teknologi dimanfaatkan pula para penggiat dinar-dirham untuk mempopulerkan penggunaan dinar-dirham kepada masyarakat luas. Salah satunya apa yang dilakukan Muhaimin Iqbal, pemilik Gerai Dinar. Muhaimin telah memprakarsai pembelian barang atau jasa secara online dengan menggunakan alat tukar dinar-dirham.

Muhaimin membuat situs www.dinarworld.com untuk memfasilitasi penjual dan pembeli melakukan transaksi dengan dinar-dirham. Caranya, penjual tinggal mengiklankan produknya di situs tersebut. Hingga pertengahan Juni 2010, sudah ada sekitar 45-an pengiklan di situs tersebut. “Situs ini saya sediakan gratis,” ujar penulis buku Dinar Solution ini.

Agar proses transaksinya berjalan lancar, Muhaimin memperkenalkan sistem pembayaran dengan M-Dinar; sebuah sistem pembayaran berbasis dinar atau gold dinar payment system. Selain sebagai tabungan, M-Dinar dapat difungsikan untuk pembayaran. Nasabah yang telah memiliki account M-Dinar tinggal memanfaatkan fasilitas ini dengan menggunakan handphone, komputer, atau notebook. Nanti akan terjadi pengurangan saldo tabungan, bila nasabah melakukan transaksi.

Pemanfaatan teknologi dengan meluncurkan pasar Islam online juga dilakukan oleh Koperasi Syariah Dinarku. Sony Sugema, pendiri Koperasi Syariah Dinarku, mengatakan meski baru tahap rencana tapi sudah banyak pihak mendesak agar portalnya segera dioperasikan. “Terus terang kita juga sering mendapat pertanyaan, kapan pasar online akan diluncurkan? Mudah-mudahan tidak lama lagi akan segera beroperasi, ” ungkap ayah sebelas anak ini.

Pihaknya sebetulnya sudah memiliki alamat portal atau situs yang bakal dimanfaatkan sebagai pasar online, yakni www.pasarukaz.portalcepat.com. Namun, ketika Suara Hidayatullah coba mengaksesnya, di dalamnya belum ada data-data yang diperbaharui.

Dalam menyambut Ramadhan, akhir Juli 2010 ini, Koperasi Syariah Dinarku akan menggelar pasar Islam. Lokasinya di selasar Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Jalan Diponegoro Bandung, Jawa Barat. Sebanyak 150 stan disediakan bagi para pedagang Muslim maupun non Muslim. Pasar ini dibuka oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan.

Sementara itu, Islamic Mint Nusantara (IMN) ikut mengandalkan kemajuan teknologi untuk menarik minat masyarakat menggunakan dinar-dirham. Saat ini IMN memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mengetahui rate (kurs), sehingga pengguna dinar-dirham bisa mengecek lewat handphone. Demikian juga jika ingin membayar dengan dinar-dirham bisa melalui transfer bank. “Kami akui, saat ini kami masih kerja sama dengan bank konvensional untuk layanan transfernya. Karena darurat saja,” jelas Abbas Firman mewakili IMN.

Tak Ada Halangan

Munculnya inovasi dan gebrakan untuk memudahkan penggunaan dinar-dirham; seperti maraknya pasar-pasar Islam, adanya pecahan dirham, dan pemanfaat kemajuan teknologi, tentu patut disyukuri. Menurut Zaim, secara teknis sudah tak ada halangan lagi untuk menjadikan dinar-dirham sebagai alat tukar. “Beberapa tahun yang lalu kita sangat sulit menerapkan dinar-dirham. Kalau sekarang kemudahan-kemudahan itu sudah ada. Contohnya, pasarnya sudah ada, modelnya sudah ada, dan mata uangnya juga sudah lengkap.”

Namun, kata Zaim, meski kemudahan itu sudah di depan mata, masih ada saja sebagian umat Islam yang hanya menjadikan dinar-dirham sebagai alat simpan saja. Padahal, tambah Zaim, dinar-dirham itu sama fungsinya seperti mata uang lainnya, selain sebagai alat simpan juga alat tukar. “Kalau ada orang yang seperti itu, apa bedanya dengan penimbunan. Uang kertas itu riba. Allah memerintahkan kita untuk meninggalkan riba. Hanya dengan ketakwaanlah yang membuat seseorang mampu meninggalkan riba dengan beralih kepada dinar-dirham,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan Sony Sugema. “Bukan itu (menyimpan) tujuan dinar-dirham dihidupkan kembali, tetapi bagaimana kita menabung dengan aman dan efektif. Harta itu tidak boleh hanya berputar di kalangan tertentu, tapi harus bisa menghidupkan ekonomi umat,” jelas Sony.

Sumber : http://majalah.hidayatullah.com/?p=1802
Selengkapnya...

[+/-] Selengkapnya...

Sekarang, Saatnya Gunakan Dinar-Dirham

Dinar-dirham sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Pemerintah diminta meresponnya.
Senja bersiap meninggalkan cakrawala. Beberapa pedagang kaki lima di Jalan Sungai Landak Cilincing, Jakarta Utara terlihat sigap membangun tenda-tenda kayu dan merapikan barang dagangannya. Mereka memulai aktivitas mengais rezeki hingga tengah malam.

Aktivitas sore sampai malam hari di Jalan Sungai Landak itu sepintas tak ada yang berbeda dengan di daerah pinggiran Jakarta lainnya. Namun, bila dicermati, di kawasan yang terletak hanya beberapa meter dari Pantai Marunda itu, terdapat aktivitas yang langka ditemukan di daerah-daerah lainnya.

Di sepanjang jalan ini hingga dini hari dijumpai aktivitas transaksi jual beli dengan menggunakan dirham sebagai alat tukar. Ada puluhan toko dan warung kaki lima yang menerima pembayaran dengan dirham. Warung nasi goreng milik Syamil misalnya.

Warung Syamil atau biasa dipanggil Cak Syam ini menerima pembayaran dirham sejak tahun 2009. “Saya senang menerima dirham karena yakin bernilai stabil,” katanya.

Selain warung nasi goreng ada juga warung pecel lele, toko obat, bengkel motor, toko material, dan toko kelontong yang menerima pembayaran dengan dinar maupun dirham.

Miskin tapi Pakai Dirham

Sofyan al-Jawi, Pemilik Wakala al-Faqi, penyedia dinar-dirham untuk daerah Cilincing, mengatakan, kesadaran masyarakat untuk menggunakan dirham sebagai alat tukar berawal saat Ramadhan 2009. Saat itu, Baitul Maal Nusantara (BMN) membagikan uang zakat sebesar satu dirham per kepala keluarga di wilayah pesisir pantai tersebut. “Awalnya mereka merasa aneh. Bahkan ada yang mengira bahwa dirham ini mata uang negara Arab. Setelah kami jelaskan, akhirnya mereka mengerti dan sampai sekarang keterusan menggunakannya,” jelas Sofyan saat ditemui Suara Hidayatullah.

Sebelumnya, kata Sofyan, pada 2009 warga Cilincing juga pernah menggelar pasar Islam yang transaksi jual belinya menggunakan dirham. Meski baru sebatas menggunakan dirham sebagai alat tukar, tapi Sofyan merasa bangga dengan kesadaran masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan tersebut. Apalagi kebanyakan mereka hidup di bawah garis kemiskinan. ”Menurut saya ini unik, bisa menjadi model. Orang miskin saja mau menggunakan dirham, masak orang kaya tidak?” kelakarnya.

BMN sendiri merupakan lembaga yang berada satu jaringan dengan Wakala Induk Nusantara (WIN), penyedia dinar-dirham untuk lingkup nasional. BMN secara rutin menggelar pembagian zakat berupa dirham kepada kaum dhuafa di berbagai daerah.

Dilirik Non Muslim

Selain di Cilincing, berbagai daerah juga rutin menggelar pasar-pasar Islam. Bandung salah satunya. Di ibukota Jawa Barat ini setidaknya dalam tiga tahun terakhir, tercatat sudah puluhan kali diadakan pasar Islam atau pasar ukhuwah. Menurut catatan Pembina Paguyuban Pedagang Pasar Islam Bandung, Thoriq Gunara, pasar Islam pernah diadakan di Masjid Salman ITB, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, dan di Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Bandung.

Thoriq menjelaskan, dipilihnya kampus sebagai lokasi pasar Islam karena mempunyai komunitas dinar-dirham yang cukup banyak. Selain itu, kampus juga dinilai sangat strategis untuk edukasi mengenai dinar-dirham. Dalam kegiatan pasar Islam, biasanya pihak panitia juga merangkai berbagai kegiatan pendukung seperti seminar, talk show, bedah buku, atau dialog seputar dinar-dirham. Narasumbernya mereka datangkan dari praktisi, penulis buku, maupun kalangan akademisi yang konsen terhadap dinar-dirham.

Untuk jenis komoditas yang dijajakan, tidak kalah dengan pasar tradisional. Dari makanan ringan, buku, herbal, pakaian hingga barang elektronik tersedia. Bahkan, kata Thoriq, ayam dan domba pun sempat ikut dipasarkan. Semua barang dibandrol dengan dirnar dan dirham. Dalam setiap penyelenggaraan, lebih dari 50 pedagang ikut berpatisipasi. Pedagangnya pun tidak hanya dari kalangan Muslim, ada juga pedagang non Muslim yang ikut menjajakan barang dagangannya di pasar Islam.

”Pedagang tersebut senang mengikuti aturan pasar Islam. Meski diyakini kedatangan mereka hanya mencari peluang dan untung semata, namun itu membuktikan bahwa pasar yang dibangun dengan prinsip syariah mampu menarik kalangan non Muslim,” jelas Thoriq.

Untuk memudahkan pengunjung yang tak memiliki dinar-dirham, panitia menyediakan stan penukaran rupiah ke dinar/dirham (wakala).

Semarak geliat pasar Islam juga terjadi di Bogor dan Depok. Di Bogor, pasar Islam pernah diselenggarakan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Fatah, Pasir Angin Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Pasar ini berlangsung selama dua hari, 2 sampai 4 April 2010. ”Alhamdulillah, ada sekitar 10.000 pengunjung. Perputaran uang kalau dirupiahkan sebesar 130 juta rupiah,” kata Ali Farkhan Tsani, Sekretaris Ponpes Al-Fatah.

Sementara di Depok hampir setiap pekan digelar pasar Islam. Pasar ini biasa diselenggarakan di jalan M Ali Beji. Di daerah ini pula terdapat toko-toko permanen yang menerima dinar-dirham. Mini market milik Sahlan, misalnya. “Kami sudah dari tiga bulan lalu menerima dirham. Kami ingin menghidupkan Sunnah Nabi,” ujar Sahlan.

AS Kalang Kabut

Seorang pakar ekonomi syariah dari Inggris, Tarek El Diwany mengatakan, penggunaan dinar-dirham sebagai mata uang utama sangat ditentukan oleh kebijakan politik. ”Politiklah yang membuat itu bisa terjadi,” kata Tarek.

Tarek meyakini, jika umat Islam terus menerus masih menggunakan uang kertas, maka umat Islam akan tetap menjadi miskin. Tetap termarjinalkan dan akan sulit keluar dari permasalahan perekonomian.

Syafi’i Antonio, Komite Ahli Pengembangan Perbankan Syariah Bank Indonesia, mengatakan bahwa penerapan dinar-dirham sejalan dengan tujuan Bank Indonesia (BI). “Sesungguhnya apa yang dibutuhkan oleh BI adalah satu sistem ekonomi yang stabil. Sistem ekonomi yang stabil itu tergantung kepada sistem mata uangnya. Nah, salah satu kelemahan sistem mata uang kita sekarang ini adalah risiko depresiasi (penurunan nilai) karena inflasi permanen,” jelas Syafi’i kepada Suara Hidayatullah.

Syafi’i menjelaskan, dinar-dirham merupakan mata uang yang memenuhi syarat anti inflasi. ”Tidak bisa digoyang spekulatif global, tidak mengukur tingkat harga jasa, dan memenuhi satuan hitung,” katanya.

Ia yakin seandainya dunia Islam mau menggunakan dinar-dirham, maka Amerika Serikat (AS) kalang kabut. Eropa saat ini sudah menyatu dengan mata uang Euro. Kemudian China, Taiwan, Hongkong, dan Changhai juga demikian. Maka, kata Syafi’i, Dolar AS tidak akan ada yang pakai. Kecuali hanya dipakai di AS sendiri.

Jadi, tambah Syafi’i, sesungguhnya ini lebih berbahaya dari senjata nuklir sekalipun. Karena dengan ini, AS akan kehabisan daya tekan kepada dunia global. Mereka tidak akan bisa menekan lagi secara ekonomi, sebab dolar tidak ada yang pakai. Ini yang paling dikhawatirkan oleh AS. “Makanya, segala upaya yang mengarah kepada adanya blok yang lain akan dihambat,” tandasnya.

Sumber: http://majalah.hidayatullah.com/?p=1802
Selengkapnya...

[+/-] Selengkapnya...

Keunggulan Dirham sebagai Alat Investasi

*koin-koin dirham yang telah beredar, koin dari pencetakan Islamic Mint Nusantara 2009 (IMN)

Kembali dicetaknya koin pecahan 1 dirham menjadi salah satu alternatif menabung dan berinvestasi bagi masyarakat khususnya ummat Islam di Indonesia. Selain sambutan gembira dengan hadirnya kembali koin perak yang sekitar 7 abad silam sempat mewarnai perdagangan yang adil antara dunia barat dengan dunia timur ini, ada pula pertanyaan seputar keandalan koin dirham perak di banding koin dinar emas. Beberapa poin berikut ini menunjukkan berbagai kesamaan, bahkan kelebihan dirham di banding dinar untuk mewujudkan sistem perdagangan dan investasi yang lebih memenuhi syariah yang sesuai dengan ilmu dan amal yang dicontohkan.
Pertama, harga perak memiliki kecenderungan naik seiring dengan kenaikan/fluktuasi harga emas. Tercatat dalam lima tahun terakhir kenaikan harga perak adalah sebagai berikut ini (sumber: www.kitco.com, harga per troy ounce, dalam US$). Tahun 2004 naik dari US$ 6,2995 ke US$ 7,1040 (naik 12,77%), tahun 2005: dari 6,6093 ke 8,6331 (naik 30,62%), tahun 2006: dari 9,1538 ke 13,3605 (naik 45,96%), tahun 2007: dari 12,8389 ke 14,2992 (naik 11,37%), tahun 2008: dari 15,9611 ke 10,2852 (turun 35,56%) dan tahun 2009 (sampai bulan Juni) dari 11,2914 ke 14,0289 (naik 24,24%).

Bandingkan dengan fluktuasi harga emas dalam kurun dan satuan yang sama sebagai berikut ini. Tahun 2004 naik dari US$ 413,99 ke US$ 441,76 (naik 6,71%), tahun 2005: dari 424,15 ke 509,76 (naik 20,18%), tahun 2006: dari 549,86 ke 629,79 (naik 14,54%), tahun 2007: dari 631,17 ke 803,20 (naik 27,26%), tahun 2008: dari 889,60 ke 816,09 (turun 8,26%) dan tahun 2009 (sampai bulan Juni) dari 858,69 ke 928,64 (naik 8,15%). Secara akumulatif kenaikan harga perak dari awal 2004 hingga Juni 2009 adalah 89,40%, sedangkan untuk kurun yang sama kenaikan harga emas hanya 68,57%.

Trend kenaikan harga dirham belum dapat disajikan saat ini karena tidak tersedianya koin dirham dalam hampir empat tahun terakhir. Kenaikan harga perak ini, tentunya juga harga dirham, membuktikan bahwa koin ini sama bagusnya dengan dinar sebagai alat investasi. Hal ini akan menghindarkan gerusan inflasi bagi para pemilik harta, terutama yang masih menyimpan dalam bentuk uang kertas atau media investasi lain yang pertumbuhan nilainya lebih rendah dari angka inflasi tahunan.

Kedua, dirham bisa dipertukarkan dengan dinar, dan sebaliknya, tanpa dikenai perbedaan kurs. Misalnya untuk saat ini PT IMN menentukan bahwa 1 dinar sama dengan 42 dirham (update per bulan desember 2009). Ini artinya bahwa para pemegang 42 koin dirham bila menginginkan untuk mengubah simpanannya menjadi dinar tinggal datang ke wakala dan melakukan penukaran tersebut.

Adanya kurs pertukaran antardua jenis koin ini memberikan kepastian bahwa nilai dirham akan seimbang dengan nilai dinar dalam jumlah tertentu. Selain itu bagi para pemilik dinar jika membutuhkan uang rupiah dalam jumlah sedikit, misalnya 40% dari nilai dinar, maka bisa menukarkan koinnya dengan dengan dirham baru kemudia merupiahkan beberapa koin dirhamnya, tanpa harus memegang sisa tabungannya dalam rupiah.

Ketiga, dengan harga satuannya yang kecil, maka memungkinkan masyarakat yang selama ini belum bisa menabung dalam uang islam ini untuk mulai menjangkaunya. Jika selama ini ada sebagian masyarakat yang harus menunggu katakanlah tiga bulan sekali untuk mendapatkan satu dinar, maka saat ini bisa dilakukan dengan tiap bulan menabung 13 dirham, atau 3 dirham seminggu. Hal ini telah memberikan kepastian dan kemudahan para peminat tabungan dalam koin Islam ini untuk mendapatkannya kapanpun. Dirham akan mampu menjangkau penggunaan dan pemanfaatan uang Islam ini kepada masyarakat yang jauh lebih luas daripada hanya menggunakan dinar saja.

Keempat, masih terkait dengan harga satuannya yang jauh lebih kecil dari dinar, maka koin ini akan lebih mudah digunakan sebagai alat transaksi. Koin ini akan mampu digunakan untuk transaksi pembelian barang dan jasa pada kisaran Rp 35 ribu seperti pakaian, jasa medis, obat dan kosmetik herbal, dan sebagainya. Koin ini juga akan lebih fleksibel untuk ditransaksikan pada produk yang mendekati satu dinar seperti paket kambing aqiqah yang biasanya mulai dipasarkan dengan harga Rp 900 ribu, bisa diganti menjadi 26 dirham.

Dengan berbagai keunggulan koin pecahan 1 dirham tersebut, maka tiga fungsi utama mata uang yaitu sebagai Alat Tukar (Medium of Exchange), sebagai Penyimpan Nilai (Store of Value) dan sebagai Satuan Perhitungan/Timbangan (Unit of Account) tersebut makin tercermin dalam diri koin perak ini. Maka dengan kembalinya koin pecahan 1 dirham ini diharapkan akan mempercepat terwujudnya transaksi dan investasi yang lebih memenuhi kaidah syariah di Indonesia dan dunia.

oleh as’ad nugroho – direktur IMN, Juni 2009, also posted at: www.dinarfirst.org

Selengkapnya...

[+/-] Selengkapnya...


Dalam beberapa pekan terakhir ini kita bener-bener merasakan betapa terintegrasinya ekonomi dunia sekarang. Bahkan krisis di Negara yang sangat jauh baik dari sisi geografis maupun dari sisi hubungan ekonomi-pun, dampaknya dapat kita rasakan sampai negeri ini. Rupiah bisa lunglai, saham-saham di Indonesia Stock Exchange ikut anjlog – padahal pusat epicentrum gempa financial dunia-nya ada nun jauh di Yunani sana. Lantas dengan komponen apa kita bisa membangun ‘bangunan tahan gempa financial’ kita ?, agar rencana pendidikan anak-anak yang masih belasan tahun, rencana pergi haji lima tahun mendatang, rencana renovasi rumah setiap sepuluh tahun, tabungan hari tua agar tetap mandiri sampai akhir hayat dlsb. dlsb. - tidak setiap saat terekspose risiko krisis financial global ?.

Emas atau Dinar-lah salah satu batu bata yang kokoh untuk bangunan finansial Anda sebagai jawaban dari risiko tersebut diatas, yang insyallah tahan gempa krisis financial global dengan frequency kejadian dan severity yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Emas/Dinar memiliki enam alasan yang tidak terbantahkan dan tidak dimiliki oleh instrumen investasi lainnya sebagai berikut :

Insurance Against Inflation

Harga kambing di jaman Rasulullah SAW 1 Dinar, sekarang-pun uang satu Dinar tetap dapat untuk membeli kambing ukuran besar. Apakah ada uang lain di dunia yang terbukti stabil daya belinya ( dengan average inflasi 0%) sepanjang lebih dari 1,400 tahun …?

Insurance Against Currency Devaluation

Negara-negara di dunia bila dalam posisi kepepet sering melakukan tindakan drastic men-devaluasi mata uangnya; bila ini terjadi, maka rakyat yang tidak siap selalu jadi korban. Emas atau Dinar adalah instrumen yang paling efektif dan praktis untuk cover risiko ini.

Optimal Security Against Geo-Political and Financial Market Instability

Ekonomi dan politik dunia saat ini seperti berada pada tanah yang labil, ‘gempa’ dalam skala besar bisa mulai dari krisis politik yang kemudian merambat ekonomi – dan sebaliknya bisa berawal dari ekonomi kemudian merembet ke politik. Selagi ada tempat ‘investasi’ yang lebih stabil, mengapa tidak pilih tempat tersebut ?.

Independently Based On Its Own Demand and Supply

Harga emas atau Dinar tidak ditentukan oleh kebijakan politik atau ekonomi suatu Negara manapun; harga emas bagian terbesarnya adalah dihasilkan oleh mekanisme supply and demand di market. Banyak pihak berusaha mempermainkannya selama ini, namun mekanisme pasar tetap lebih dominan.

Inherent Intrinsic Value

Emas membawa nilainya sendiri (inherent), tidak bisa didevaluasi oleh kebijakan suatu negara. Tidak pernah pula dalam sejarah peradaban manusia emas kehilangan daya belinya.

Portfolio Diversifier & Stabilizer

Sebagus apapun emas/Dinar sebagai instrumen investasi, saya tetap tidak menyarankan Anda memindahkan seluruh invesati Anda ke emas/Dinar. Kaidah investasi jangan menaruh seluruh telur pada keranjang yang sama – tetap berlaku; bukan karena risiko terhadap emasnya – tetapi karena kebutuhan Anda yang bisa tiba-tiba berubah.

Jadi jadikan emas/Dinar sebagai salah satu saja dari portfolio Anda; selebihnya bisa investasi di sektor riil; dan untuk kebutuhan jangka pendek dimana Anda memerlukan Rupiah sebagai alat tukar – kemungkinan besarnya Anda juga masih tetap memerlukan Rupiah ini sebagi bagian dari portfolio Anda.

Sumber: http://www.usahadinar.com/enam-alasan-mengapa-kita-justru-butuh-emasdinar-di-era-ekonomi-global
Selengkapnya...

[+/-] Selengkapnya...

Dirham Perak (Koin Perak)


Dunia Islam tidak hanya mengenal mata uang dinar emas, tapi juga dirham perak. Dirham merupakan mata uang yang digunakan sejak awal Islam hingga berakhirnya Kekhalifahan Usmaniah Turki tahun 1924. Penggunaan dirham sama seperti dinar, tapi memiliki nilai berbeda. Dirham digunakan sebagai alat transaksi perdagangan dan juga membayar zakat dan denda (diyat).

Standarisasi berat uang dinar dan dirham mengikuti Hadits Rasulullah SAW, "Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran adalah takaran penduduk Madinah" (HR. Abu Daud).

Sementara, pada masa Umar bin Khattab sekitar tahun 642 Masehi, pencetakan dirham pertama dalam masa kekhalifahan Islam dilakukan yaitu berat 7 dinar sama dengan berat 10 dirham. Sementara, berat satu dinar emas adalah sekitar 4,25 gram. Dengan demikian, berat satu dirham adalah 7/10 x 4.25 gram atau sama dengan 2,975 gram.

Dirham memang sudah ada sejak sebelum Islam lahir. Bahkan, mata uang perak telah digunakan sejak lama di Yunani. Dalam sejarah, istilah dirham sebetulnya berasal dari koin Yunani, Drachma.

Saat itu, Kekaisaran Romawi menggunakan drachma sebagai alat perdagangan dengan pedagang Arab sebelum masa Islam. Penggunaan drachma sebagai alat tukar memiliki alasan serupa dengan dinar emas. Hal itu karena drachma memiliki nilai instrinsik karena terbuat dari perak.

Di Indonesia, dirham saat ini hanya diproduksi oleh Logam Mulia, PT. Aneka Tambang TBK. Namun, pemasaran dirham sebagai alat investasi bagi masyarakat dapat dilakukan oleh berbagai lembaga. Di antaranya adalah Gerai Dinar dan Wakala Induk Nusantara.

Mengenai nilai tukar, melalui situs resminya, Wakala Induk Nusantara menetapkan nilai satu Dirham perak sebesar Rp 35.500,- pada Jum'at pagi, 08 Oktober 2010. Sedangkan, Gerai Dinar menetapkan harga beli dan jual satu dirham perak pada hari sama pukul 08.06 WIB sebesar Rp 37.000,- dan Rp 35.520,-.

Sumber: http://www.muslimdaily.net/berita/all/1303/mengenal-mata-uang-dirham-perak
Selengkapnya...

[+/-] Selengkapnya...

DINAR EMAS (Koin Emas)

Dinar emas berdasarkan Hukum Syari’ah Islam adalah koin emas yang memiliki kadar 22 karat emas (917) dengan berat 4,25 gram, sedangkan Dirham perak Islam memiliki kadar perak murni dengan berat 3 gram, atau lebih tepatnya 2,975 gram. Khalifah Umar ibn Khattab menentukan standar antar keduanya berdasarkan beratnya masing-masing: “7 dinar harus setara dengan 10 dirham.” Wahyu menyatakan mengenai Dinar Dirham dan banyak sekali hukum hukum yang terkait dengannya seperti zakat, pernikahan, hudud dan lain sebagainya. Sehingga dalam Wahyu Dinar Dirham memiliki tingkat realita dan ukuran tertentu sebagai standar pernghitungan (untuk Zakat dan lain sebagainya) dimana sebuah keputusan dapat diukurkan kepadanya dibandingkan dengan alat tukar lainnya.

Ibnu Khaldun dalam al-Muqaddimah menyebutkan bahwa terdapat ijma sejak awal Islam dan masa para Sahabat dan Tabi’in bahwa sepuluh dirham syariah sepadan dengan tujuh mitsqal (berat dinar) emas. Berat satu mitsqal emas adalah tujuh puluh dua butir gandum, sehingga tujuh-persepuluhnya adalah lima puluh dua-perlima butir gandum. Semua ukuran ini dengan kokoh ditetapkan oleh ijma.

* Apa saja kegunaan Dinar Islam? Dapat digunakan sebagai simpanan, investasi penjaga nilai
* Dapat digunakan sebagai pembayar zakat dan mas kawin sebagaimana telah disyaratkan oleh Syari’ah Islam
* Dapat digunakan untuk perniagaan sebagai alat tukar yang sah

Sejarah

Muslimin menggunakan emas dan perak berdasarkan beratnya dan Dinar Dirham yang digunakan merupakan cetakan dari bangsa Persia.

Koin awal yang digunakan oleh Muslimin merupakan duplikat dari Dirham perak Yezdigird III dari Sassania, yang dicetak dibawah otoritas Khalifah Utsman radhiyallahu anhu. Yang membedakan dengan koin aslinya adalah adanya tulisan Arab yang berlafazkan “Bismillah”. Sejak saat itu tulisan “Bismillah” dan bagian dari Al Qur’an menjadi suatu hal yang lazim ditemukan pada koin yang dicetak oleh Muslimin.

Standar dari koin yang ditentukan oleh Khalifah Umar ibn al-Khattab, berat dari 10 Dirham adalah sama dengan 7 Dinar (1 mithqal). Pada tahun 75 Hijriah (695 Masehi) Khalifah Abdalmalik memerintahkan Al-Hajjaj untuk mencetak Dirham untuk pertama kalinya, dan secara resmi beliau menggunakan standar yang ditentukan oleh Khalifah Umar ibn Khattab. Khalifah Abdalmalik memerintahkan bahwa pada tiap koin yang dicetak terdapat tulisan: “Allahu ahad, Allahush shamad”. Beliau juga memerintahkan penghentian cetakan dengan gambar wujud manusia dan binatang dari koin dan menggantinya dengan huruf-huruf.

Perintah ini diteruskan sepanjang sejarah Islam. Dinar dan Dirham biasanya berbentuk bundar, dan tulisan yang dicetak diatasnya memiliki tata letak yang melingkar. Lazimnya di satu sisi terdapat kalimat “tahlil” dan “tahmid”, yaitu, “La ilaha ill’Allah” dan “Alhamdulillah” sedangkan pada sisi lainnya terdapat nama Amir dan tanggal pencetakkan; dan pada masa masa selanjutnya menjadi suatu kelaziman juga untuk menuliskan shalawat kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam, dan terkadang, ayat-ayat Qur’an.

Koin emas dan perak menjadi mata uang resmi hingga jatuhnya kekhalifahan. Sejak saat itu, lusinan mata uang dari beberapa negara dicetak di setiap negara era paska kolonialisme dimana negara-negara tersebut merupakan pecahan dari Dar al Islam.

Perlu diingat bahwa Hukum Syariah Islam tidak pernah mengizinkan penggunaan surat janji pembayaran menjadi alat tukar yang sah.

Jenis-jenis koin Dinar Emas dan Dirham Perak

Koin Dinar dicetak dan di distribusikan oleh beberapa pihak. Design koin dinar emas dan dirham perak berbeda beda sesuai pencetaknya. Beberapa jenis koin dinar yang sudah dicetak saat ini :

1. Dinar Dubai

Uni Emirat Arab mencetak koin Dinar dengan desain Masjid Nabawi di Madinah dan koin Dirham dengan desain Masjidil Haram di Mekkah

2. Dinar Wakala Induk Nusantara

Wakala Induk Nusantara mencetak dan mengedarkan koin Dinar Emas dan Dirham Perak dengan 2 seri, yaitu Seri Haji dan Seri Nusantara. Untuk desain Seri Haji mirip dengan Dinar yang dicetak di Dubai Uni Emirat Arab

3. Dinar Logam Mulia

PP Logam Mulia mencetak koin Dinar dan Dirham dengan desain Masjidil Haram di Mekkah

4. Dinar 24 Karat

PP Logam Mulia juga mencetak koin Dinar dengan kadar 24 karat dengan Desain hanya tulisan

5. Dirham European Moslem Union

Komunitas Muslim di Eropa mencetak dirham dengan desain gambar benua Eropa.

Sumber : http://simpleisperfect.wordpress.com/2010/05/26/dinar-emas-koin-emas/
Selengkapnya...

[+/-] Selengkapnya...

Pemberdayaan Zakat

Zakat menjadi salah satu solusi alternatif dalam membangun ekonomi ummat, sekaligus menciptakan iklim solidaritas sesama manusia.

Dalam kaitannya dengan cita-cita membangun ekonomi ummat, dapat dilihat dalam dua tingkatan permasalahan. Pertama pada tingkat pelaksanaan zakat, dan kedua pada tingkat pendayagunaan serta pendistribusiannya.

Pada tingkat pelaksanaan, penyelesaian masalah akan banyak melibatkan alim ulama dan para fuqoha. Umpamanya dalam hal ketentuan hukum mengenai zakat bagi kalangan profesional yang tidak bertani atau berdagang, tetapi memperoleh kekayaan yang lebih besar.

Pada tingkat pendistribusian dan pendayagunaan, pelaksanaan zakat juga masih memiliki masalah. Ketika potensi kekayaan ummat masih sangat terbatas, mungkin tidak ada masalah dalam mendistribusikan dan mendayagunakan zakat itu. ketika zakat sudah mencapai jumlah angka yang besar, bermunculanlah permasalahan baru. Dengan besarnya potensi ummat ini tentu perlu adanya peningkatan pengelolaan secara profesional dan proporsional serta lebih berdayaguna bagi kepentingan ummat.

Persoalan manajemen zakat diawali oleh adanya kesenjangan (gap) antara potensi dan realita. Pada kondisi ini kesenjangan manajemen dibagi menjadi empat faktor pokok yaitu keberadaan sumber dana, pengorganisasian, pelaporan, dan pemanfaatan sasaran.

Untuk membahas semua persoalan kesenjangan di atas dibutuhkan pemahaman tentang kerangka sistem terpadu, yaitu kerangka sistem yang meliputi orientasi organisasi sebagai berikut: Orientasi sumber (input), orientasi proses, dan orientasi tujuan (output).

Orientasi Sumber
Sistem dengan orientasi sumber memandang organisasi sebagai fungsi untuk menghimpun sumber daya secara maksimal. Input dapat berupa kuantitas materi maupun kualitas sumber daya manusia. Dalam manajemen zakat artinya adalah bagaimana organisasi mampu menghimpun daya berupa dana zakat dalam jumlah yang sebesar-besarnya.

Orientasi Proses
Sistem dengan orientasi proses bertujuan menjamin kelangsungan organisasi melalui penanganan manajemen secara efisien / lancar. Kebutuhan proses ditampilkan melalui praktek penanganan yang berupa konsultasi penyaluran, komunikasi-informasi program pengembangan, kesiapan perangkat pelaksana operasional serta kejelasan pelaporan manfaat kepada masyarakat.

Aspek pokok dalam orientasi proses adalah:
- kemampuan mengelola program pengembangan
- perencanaan dari rencana jangka pendek dan jangka panjang
- penyiapan perangkat pelaksana dan sarana pendukung
- teknik sistem informasi, kontrol pengendalian dan pelaporan manfaat.

Orientasi Tujuan
Sistem dengan orientasi tujuan dimaksudkan agar organisasi mampu mengemban misi dalam mencapai sasaran secara efektif. Dalam bahasan zakat orientasi yang dimaksud adalah bagaimana zakat dapat didayagunakan kepada sasaran delapan ashnaf dengan sebaik-baiknya.

Orientasi tujuan mengandung pertimbangan pokok bahwa teknik manajemen harus mampu menjamin tercapainya manfaat jangka pendek dan jangka panjang. Artinya zakat bukan sekedar kepentingan distribusi konsumsi (jangka pendek) tetapi secara prinsip adalah bagaimana zakat dapat mengangkat harkat manusia dalam menjalani hidup yang seimbang antara kepentingan dunia dan akhirat (jangka panjang). Maka manajemen dalam posisi ini tidak dapat lagi ditangani secara sambilan oleh para pengurus dan semua perangkat lembaga yang ada.

Manajemen zakat pada masa sekarang mensyaratkan profesionalisme berdasarkan fungsi dan spesialisasi, dengan tujuan akhirnya adalah fungsi produktif zakat agar benar-benar dapat menggerakkan ekonomi ummat, khususnya bagi kalangan yang tidak mampu.

Dikutip dari:

Model Pemberdayaan Dewan Keluarga Masjid di Jawa Barat
Diterbitkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat

Sumber: http://bmtsakinah.wordpress.com/baitul-mal/pemberdayaan-zakat/
Selengkapnya...

[+/-] Selengkapnya...

Rapat Pembentukan Koperasi

Alhamdulillahirabbil'alamin.

Menjadi bagian sejarah dari perjalanan BMT Berkah Ukhuwah adalah kemarin tepat pada tanggal 4 Agustus 2010, resmi setelah 4 bulan softlaunching operasional BMT, maka diadakanlah rapat pembentukan Koperasi yang dihadiri oleh Perwakilan Dinas Koperasi Kota Dumai, Dewan Pemerakarsa, Dewan Pendiri, Nasabah BMT & Undangan.

Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, dan dilanjutkan dengan rapat pembuka untuk menentukan pimpinan rapat. Setelah ditentukannya pimpinan rapat, maka dilaksanakanlah Rapat Pembentukan Koperasi dengan agenda:
1. Penetapan & pengesahan Anggaran Dasar Koperasi
2. Penetapan SHU (Sisa Hasil Usaha)
3. Pemilihan Dewan Pengurus & Dewan Pengawas Koperasi
4. Pelantikan Dewan Pengurus & Dewan Pengawas Koperasi

Semoga dengan diadakannya rapat pembentukan ini makin memperkuat gerak langkah BMT untuk menggapai kinerja yang lebih tinggi dan menjadi lebih profesional. Semoga cita-cita kita bersama dalam mewujudkan masyarakat yang makmur & sejahtera serta "berkiblat" pada prinsip-prinsip syariah dapat segera terwujud. Amin Ya Rabbal'alamin.




Selengkapnya...

[+/-] Selengkapnya...